A Turning Part 8


A Turning àPart 8ß
(Deva: Kita semua selalu ada buat elo, Kak)


====A Turning====

‘tok..tok..tok’

“Fy..kakak masuk ya.”

“iya” sahut Ify singkat. Pintu kamar Ify terbuka dan terlihat Shilla-orang tadi-melangkah masuk.

“lagi apa sih, Fy?” tanya Shilla.

“tugas, Kak” jawab Ify tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.

“tugas apaan?” tanya Shilla.

“tugas bahasa Indonesia kakak” jawab Ify yang sedikit geram. Shilla menghela nafas melihat tingkah acuh adiknya itu. Rencananya ingin membahas tentang ‘sesuatu’ itu sepertinya gagal.

“oh, ya udah deh. Kakak tinggal dulu aja, nanti kamu-nya keganggu” ucap Shilla sambil melangkah keluar kamar.

“hmm..” respon Ify. Ia tetap fokus mengerjakan tugasnya itu. Suasana kamar Ify kembali sunyi. Tak lama dari itu, seseorang mengetuk pintu kamarnya kembali.

‘tok..tok..tok’

“Fy? Gue masuk ya.” Tanpa menunggu persetujuan dari sang empunya kamar, orang itu membuka pintu kamar Ify dan melangkah masuk. Ternyata orang itu adalah kakak keduanya, Gabriel.

“lagi ngapain?” tanya Gabriel. Ify menoleh sekilas dan kemudian kembali fokus menekuni pekerjaannya itu.

“tugas” jawabnya singkat.

“tugas apa sih?” tanya Gabriel lagi yang membuat Ify geram.

“kalo mereka emang gak salah pilih elo sebagai ketua osis, tentu lo bisa tau tugas apa yang gue kerjain cuma dari ngeliat teks-teks ini” jawab Ify kesal. Gabriel terperangah dengan ucapan sang adik.

‘ebuset nih anak. Gak biasanya dia kayak gini. Sensi berat kayaknya nih’ batin Gabriel.

“iyee ah, gue pergi aja. Entar gue ganggu” pamit Gabriel sambil melangkah keluar kamar yang serba biru itu.

“ganggu orang aja sih. Udah tau lagi ngerjain tugas, masih aja nanya” dumel Ify. Kemudian ia kembali berkutat pada laptopnya itu. Tak lama dari itu..

‘tok..tok..tok’ ketukan pintu kembali terdengar. Kali ini Ify dibuatnya kesal.

“Fy..” baru saja ingin melangkah masuk, semprotan dari Ify terdengar.

“ada apa lagi sih? Gue lagi ngerjain tugas nih. Gak bisa apa nanti aja masuknya. Nanti kalo gue gak selesai gimana? Nih tugas mesti gue kumpul besok. Tunggu waktu yang tepat deh kalo mau masuk kamar gue” ucap Ify kesal. Cakka, orang yang mengetuk pintu tadi terdiam di ambang pintu kamar Ify.

“gu..gue..” ucap Cakka terbata.

“mau apa?” tanya Ify galak.

“gue Cuma.. ma..mau pinjem pensil elo doang kok hehe. Pensil gue ilang” jawab Cakka.

“kenapa mesti sama gue? Deva kan ada” ucap Ify yang masih terlihat kesal.

“tadi gue juga udah mau pinjem ke Deva, tapi pensil Deva juga kagak ada. Jadi gue pinjem ke elo” jawab Cakka.

“heuh.. nih. Dasar kakak beradik sama-sama gak modal” keluh Ify sambil menyerahkan pensilnya ke Cakka.

“yee..bukannya gak modal. Tapi ilang. Pensil gue itu lenyap tau” protes Cakka.

“ah, up to you lah. Ya udah, sana-sana, gue mau kerjain tugas lagi nih” usir Ify.

“huu.. iya iya. Gue juga gak betah lama-lama di kamar elo ini” ucap Cakka sambil melangkah keluar kamar Ify. Ify menghela nafas panjang dan kemudian berkutat kembali dengan tugasnya.

Tidak lama ‘drrt..drrt..’ handphonenya bergetar menandakan ada sms masuk. Tetapi tidak dihiraukan oleh Ify. Semalaman itu Ify tidak menghiraukan apa-apa dari sms yang masuk ke hp-nya berkali-kali hingga seruan Shilla dari bawah yang mengajaknya makan malam bersama. Tepat pukul 20.30, ia telah menyelesaikan tugasnya itu. Ify meregangkan otot-ototnya yang sudah pegal. Ia mengambil hp yang berada disampingnya dan kemudian mengeceknya. Ternyata ada 7 sms masuk, pertama dari Sivia, dan kemudian sampai seterusnya itu dari Rio.

From : Sivia

Fy, jgn lupa waktu kalo lagi ngerjain tugas. Gue Cuma ngingetin lo aja

===

From : Rio

Malem bidadari ku ;)

===
From : Rio

Kok gak di bales sih? :(

===

From : Rio

Lo kemana sih, Fy? Lo kenapa? Jangan bikin gue khawatir dong :(

===

From : Rio

Fy, tolong bales sms gue, gue khawatir banget sama elo

===

From : Rio

PLEASEEEE BALES

===

From : Rio

Apa elo udah tidur ya?

===

Ify terkekeh membaca sms-sms tersebut. Ternyata Rio memang benar-benar khawatir dengannya. Ify menghela nafas dan kemudian membalas sms Rio tersebut.

To : Rio

Maaf, Yo gue baru bales. Tadi gue lagi ngerjain tugas, maaf juga udah bikin lo khawatir.

Sent!
Ify melihat jam dindingnya. Astaga! Ternyata sudah pukul 9 malam, pantas saja sedari tadi ia menguap. Matanya pun sudah berusaha untuk tertutup. Saat ia berniat ia untuk berbaring, pintu kamarnya di ketuk seseorang dari luar.

“masuk aja” ucap Ify. Pintu terbuka sembari Shilla masuk ke kamarnya.

“ada apaan, Kak?” tanya Ify.

“lo makan dulu gih. Dari tadi elo kan belom makan” ucap Shilla.

“males ah, Kak. Gue lagi diet” ujar Ify sekenanya. Shilla melotot.

“ya elah, Fy. Badan lo kurus begitu mau diet, yang ada nanti tulang doang tinggal. Makan sana, gak pake ngebantah” tegas Shilla. Ify mendengus sebal.

“iya iya” ujarnya malas sambil beranjak dari tempat tidur dan melangkah keluar kamarnya yang di ikuti Shilla dari belakangnya.

Ify makan dengan malas. Memang tidak ada niat ia untuk makan. Shilla yang sedari tadi duduk didepannya sembari membaca novel, mengetahui kalau adiknya itu tidak berniat untuk makan. Shilla menutup novelnya setelah memberi pembatas ia membaca.

“Fy?” panggil Shilla.

“hmm” respon Ify tanpa mengalihkan pandangannya dari piring.

“apa lo gak bisa buka hati lo buat nerima..” Ify memotong pembicaraan Shilla. Ia sudah tau siapa yang dimaksud kakaknya itu.

“gue belom bisa. Dia udah terlalu dalem nyakitin hati gue. Susah buat ngobatinnya. Sekalipun mama udah nerima dia lagi, dan kalian semua, tapi gue tetep gak bisa ngilangin sakit hati gue karena dia.”
                                                   
“tapi kan kita bisa ngerasain utuhnya keluarga kita lagi, Fy. Elo mau itu kan? Coba buka hati kecil elo, Fy. Dia udah minta maaf sama kita semua. Keluarga kita bakal sempurna lagi.” Ify menatap piring di hadapannya dengan kosong. Shilla masih menatap adiknya itu miris, menunggu sebuah jawaban dari bibir kecil sang adik.

“gue belom bisa, Kak. Gue ke kamar” ucap Ify sambil berlalu ke kamarnya. Shilla menghela nafas panjang. Sulit sekali membujuk adik satunya itu. BRAKK! Bantingan keras pintu yang dihasilkan dari kamar Ify membuat semua orang yang berada di rumah-kecuali Shilla-keluar kamar.

“ebuset, ada apaan sih?” tanya Cakka dari arah pintu kamarnya.

“siapa tuuh?” tanya Deva.

“kenapa, Kak?” tanya Gabriel pada Shilla sambil menunju ke arah kamar Ify. Shilla menghela nafas.

“biasa, Yel. Sudah, masuk aja lo semua” ujar Shilla. Mereka bertiga langsung masuk ke kamar masing-masing.

====A Turning====

‘tapi kan kita bisa ngerasain utuhnya keluarga kita lagi, Fy. Elo mau itu kan? Coba buka hati kecil elo, Fy. Dia udah minta maaf sama kita semua. Keluarga kita bakal sempurna lagi.’ Kata-kata itu terus terngiang di pikiran Ify. Sedari tadi ia tidak bisa untuk memejamkan mata. Dan sedari tadi pula Ify berusaha untuk mencari posisi tubuh yang enak untuk tidur. Tapi tetap saja matanya sama sekali tidak berniat untuk terpejam. Ify mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk di atas kasur. Ia mengacak-ngacak rambutnya frustasi.

“arrrghh! Kenapa masalah ini mesti ke gue sih? Gue capeeekk” ucapnya sedikit berteriak. Ceklek! Pintu kamar Ify terbuka.

“heh! Bisa diem gak lo? Udah malem nih, teriak-teriak” keluh Deva yang memang kamarnya bersebelahan dengan kamar Ify. Ify mendengus sebal.

“lo kenapa sih, Kak? Udah jam segini belom tidur” tanya Deva sambil melangkah mendekati Ify.

“terserah gue dong. Elo sendiri belom tidur” ujar Ify balik.

“yeee, gue kan baru selesai ngelarin tugas. Elo tuh kenapa? Bohong deh kalo gak ada alesannya” ucap Deva. Ify menghela nafas panjang.

“gue capek, Dev. Capek buat ngadepin masalah ini. Gue udah berkali-kali buat cari jalan keluarnya, tapi tetep aja gak ketemu. Gue mesti gimana lagi coba?” ujarnya lirih sembari menatap kosong ke arah jendela. Deva menatap kakaknya itu miris.

“satu-satunya jalan keluar ya elo harus buka hati lo buat nerima papa lagi, Kak.”

“gue belom bisa buka hati gue buat terima dia. Dia udah nyakitin hati gue. Bukan Cuma hati gue, tapi juga mama. Dia itu penghianat, Dev” ujar Ify sedikit keras. Setetes air mata jatuh perlahan dari pelupuk matanya yang bening. Deva yang tidak tahan melihat kakaknya seperti itu, langsung ia dekap tubuh kakaknya. Menyalurkan sedikit kekuatan dan kehangatan.

“gue tau, Kak. Elo belom bisa buka hati lo, tapi suatu saat elo udah bisa terima dia lagi. Elo juga gak bakal sendiri ngadepin masalah ini semua, ada gue, kak Shilla, Kak Iyel, Kak Cakka sama sahabat-sahabat lo. Kita semua selalu ada buat elo, Kak.” Ify membalas pelukan Deva erat. Ia terisak. Mengeluarkan segala isi hatinya. Membuang rasa sesak yang telah bersarang di dadanya.

“nangis sepuas elo, Kak. Kalo itu emang bisa bikin elo lega” ujar Deva. Ify menangis sejadi-jadinya. Selang beberapa menit, Ify mengeluarkan suara yang memecahkan keheningan di antara mereka berdua.

“kenapa sih jalan hidup gue mesti gini? Gak adil” ucapnya serak.

“ini cobaan buat lo. Tuhan adil sama umatnya, Kak. Di balik cobaan ini pasti ada hikmahnya buat elo. Udah, elo tidur aja, udah malem juga” ucap Deva sambil melepaskan pelukannya. Ify menghapus air matanya yang telah membasahi pipi putihnya. Ia berbaring dan menarik selimut biru bergambar doraemon itu.

“makasih, Dev” lirihnya. Deva mengangguk dan melangkah keluar kamar Ify. Ia terlelap. Membawa semua kepenatannya, membawa semua permasalahannya menuju alam mimpi. Dan mengubur dalam-dalam agar ia bisa menjalani hari esok dengan tenang.

You May Also Like

2 komentar